Rabu, 28 Okt 2026 00:17 WIB

Venezuela, dan Dunia yang Kembali Memilih Otot 

  • Penulis : Redaksi
  • | Minggu, 04 Jan 2026 13:23 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

NUSABARU - Serangan militer Amerika Serikat ke Venezuela dan penangkapan Presiden Nicolas Maduro menandai satu hal yang tidak bisa kita abaikan. Dunia terus bergeser. Bukan lagi ke arah diplomasi yang lebih rapi dan sopan, tapi ke arah penggunaan kekuatan yang semakin terang-terangan.

Peristiwa ini penting bukan karena siapa yang ditangkap, tapi bagaimana ia ditangkap.

Seorang kepala negara ditumbangkan melalui operasi militer lintas batas. Tanpa mandat Dewan Keamanan PBB. Dengan dalih penegakan hukum, narkotika, dan pemulihan demokrasi. Metodenya senjata. Ini bukan detail teknis. Ini pesan politik global. 

Ini memang bukan yang kali pertama. Tahun 1989, Panama pernah mengalaminya. Sama seperti Venezuela sekarang. Presidennya ditangkap, diterbangkan ke Amerika Serijat dan diadili di sana sebagai gembong narkoba.

Venezuela bukan negara kering sumber daya. Venezuela adalah pemilik cadangan minyak terbukti terbesar di dunia, sekitar 300 miliar barel. Ini jauh di atas Saudi Arabia atau Iran. Tapi 2 dekade terakhir, produksi minyaknya merosot tajam dari puncaknya sekitar 3,5 juta barel per hari menjadi di bawah 1 juta barel per hari. Hal itu terjadi akibat kombinasi mismanajemen, sanksi, dan krisis politik yang berkepanjangan. Jutaan warga Venezuela meninggalkan negara mereka sendiri akibat krisis itu.

Dalam situasi seperti ini, konflik tidak pernah berdiri sendiri. Pasar minyak bereaksi. Risk premium naik. Ongkos logistik ikut terdorong. Dunia energi membaca Venezuela bukan sebagai isu moral, tapi sebagai variabel pasokan. Semua bisa merasakan dampaknya. Langsung maupun tak langsung.

Itulah sebabnya reaksi global terbelah. Negara-negara Amerika Latin banyak yang mengecam atas nama kedaulatan. Rusia dan China menyebutnya agresi. Uni Eropa mengambil jarak. Tidak ada suara tunggal. Norma internasional kembali diperdebatkan setelah dilanggar.

Indonesia perlu membaca ini dengan jernih.

Politik luar negeri bebas aktif nyatanya tidak sedang berada di zona nyaman. Di satu sisi, Indonesia punya tradisi panjang membela non-intervensi dan penyelesaian damai. Di sisi lain, realitas menunjukkan bahwa norma internasional hari ini bekerja selektif. Negara besar bergerak dengan kepentingan. Negara lain dipaksa menyesuaikan.

Dalam situasi seperti ini, bersuara empati penting. Terutama pada warga sipil yang selalu jadi korban pertama. Tapi empati tidak boleh berubah jadi reaktif. Indonesia harus berhati-hati, bukan karena takut, tapi karena tahu persis apa yang dipertaruhkan.

Kita bukan negara tanpa risiko.

Indonesia adalah negara dengan kekayaan sumber daya besar. Ini anugerah. Tapi di kondisi yang sedang kita bahas, bisa jadi "kutukan". Energi, mineral, pangan, dan jalur laut strategis. Sejarah global menunjukkan, kombinasi ini selalu mengundang perhatian. Tidak selalu ramah. Dunia yang kembali menghalalkan kekuatan akan selalu mencari pembenaran, dan pembenaran sering kali menemukan jalannya melalui sumber daya.

Nasionalisme hari ini juga tidak tunggal. Ia berhadapan dengan nasionalisme negara lain. Ketika kepentingan bertabrakan, benturan menjadi mungkin. Karena itu, berpikir akomodatif bukan berarti lunak. Justru itu cara menjaga kepentingan nasional di tengah realitas geopolitik yang keras.

Kita membaca ini dari Surabaya, mungkin juga dari Nabire, atau Pinrang. Peristiwa ini memang terasa jauh. Tidak ada dampak langsung dalam keseharian. Tapi ia juga terasa dekat. Dunia yang mengandalkan kekuatan membuat kita tidak bebas dari risiko "intervensi" yang mengancam rasa aman kita.

Venezuela memberi pelajaran yang tidak nyaman, tapi penting.

Bahwa dunia tidak selalu bergerak sesuai norma.

Bahwa kekayaan bisa menjadi kekuatan, tapi juga kerentanan.

Bahwa kehati-hatian adalah strategi, bukan sikap defensif.

Indonesia tidak perlu memilih kubu.
Tapi Indonesia harus jelas membaca peta.

Di dunia yang kembali memilih otot, kejernihan berpikir, konsistensi prinsip, dan diplomasi yang cerdik adalah bentuk kekuatan yang paling rasional.

Eddy Prastyo | Editor in Chief | Suara Surabaya Media

"Belajar dari Venezuela, Membaca Risiko di Rumah Sendiri"

Editor : Redaksi
Berita Terbaru

Cegah Kenakalan Remaja, Kapolres Lamongan Ajak Pelajar SMPN 1 Jauhi Narkoba dan Miras

Lamongan - - Sebagai bentuk kepedulian terhadap dunia pendidikan dan pembinaan generasi muda, Kapolres Lamongan AKBP Adhytiawarman Gautama Putra, Ph.D.,

Polres Lamongan Gelar Operasi Patuh Semeru 2026, Sasar Pelanggaran Lalu Lintas Berisiko Fatal

Lamongan - Polres Lamongan melaksanakan Apel Gelar Pasukan Operasi Kepolisian Kewilayahan Patuh Semeru 2026 pada Senin (26/10/2026) pukul 07.45 hingga 08.00

Polda Jatim Ungkap Dugaan Pembunuhan Ibu dan Anak di Madiun, Pria 40 Tahun Jadi Tersangka

SURABAYA – Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Jawa Timur mengungkap dugaan tindak pidana pembunuhan terhadap seorang perempuan dan seorang a

Jelang Hari Sumpah Pemuda ke-98, Polda Jatim Ajak Generasi Muda Jaga Persatuan dan Bijak Bermedsos

SURABAYA – Menjelang peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 pada 28 Oktober 2026, Kepolisian Daerah Jawa Timur (Polda Jatim) mengajak generasi muda untuk terus m

Kapolda Bali Kunjungi DPRD Provinsi Bali, Perkuat Sinergi Jaga Kamtibmas

Denpasar Bali - - Mempererat tali silaturahmi dan memperkuat sinergi antar-unsur Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Kapolda Bali Irjenpol Pasma

Perkuat Sinergi, Kapolda Bali dan Bank Indonesia Bahas Pengamanan Sistem Pembayaran serta Pencegahan Uang Palsu

Bali -Kapolda Bali Irjen Pol Dr Pasma Royce SIK MH menerima kunjungan silaturahmi dari Pimpinan Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Bali di Mapolda Bali,